Thursday, February 9, 2012

Silaturrahmi


Allah SWT berfirman:
"Bertaqwalah kepada Allah, dimana engkau bisa meminta dengan Nama-Nya, (dan takutlah memutuskan) silaturrahmi. (QS.4 An Nisa':1)".
Maksudnya: Takutlah kalian memutuskan hubungan silaturahmi.
Allah SWT berfirman:
"Apakah kamu mengira akan membuat berkuasa jika kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturrahmi! Mereka adalah yang dikutuk oleh Allah, Dia menulikan telinga mereka dan membutakan pandangan mereka. (QS.47 Muhammad:22-23)".
Allah SWT berfirman:
"Orang-orang yang memungkiri janji Allah setelah perjanjian kuat, dan memutuskan apa yang diperintah Allah untuk menghubungkan, dan mereka yang berbuat kerusakan di bumi; bagi mereka adalah kutukan dan jelek-jeleknya tempat (neraka). (QS.13 Ar Ra'd:25)".

Dikeluarkan oleh Imam Syaikhan melalui Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk, setelah selesai, mereka berdiri dan saling berhubungan sanak famili, mereka berkata:
"Inilah saatnya orang mohon perlindungan-MU agar tidak putus hubungan silaturrahmi".
Allah SWT berfirman:
"Benar. Tidakkah merasa puas bila Aku menghubungkan orang yang berhubungan denganmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu".
Para sanak famili berkata:
"Benar".
Allah SWT berfirman:
"Demikian ini untukmu".
Kemudian Rasulullah bersabda:
"Kalian baca surah yang kalian kehendaki,,,, (QS.47:22-23)" sebagaimana yang tercantum.

Kata Imam Tirmidzi hadits hasan shaheh, dan kata Ibnu Majah dan Imam Hakim hadits dengan sanad shaheh, ialah melalui Abu Bakrah RA, katanya mendengar sabda Nabi SAW:
"Tidak ada dosa yang paling besar didunia yang disimpan Allah buat pelakunya di akherat dari dosa penganiayaan dan memutuskan hubungan sanak famili".
Kata Imam Syaikhan:
"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan".
Kata Sufyan:
"Maksudnya memutuskan silaturrahmi".

Imam Ahmad dengan sanad-sanad periwayatan yang dipercaya, katanya:
"Sesungguhnya perbuatan anak cucu Adam dilaporkan setiap hari kamis dan malam jum'at, dan tidak diterima amal orang yang memutuskan sanak famili".
Imam Ibnu Hibban dan perawi-perawi lainnya berkata:
Ada 3 orang tidak masuk surga:
  1. Peminum minuman keras.
  2. Memutuskan hubungan silaturrahmi, dan
  3. Orang yang mempercayai sihir.
Imam Ahmad, Imam Ibnu Abidun-ya dan Imam Baihaqi meringkas penjelasan:
Ada suatu kaum dari umat ini yang bangga terjaga semalam suntuk dengan makan, minum, dan bermain-main. Dan ketika pagi tiba, wajah mereka berubah menjadi kera dan anjing hutan. Mereka dibenam-benamkan dan dilempari batu sampai pagi tiba lagi. Orang-orang pun berkata:
"Tadi malam ada pembenaman pada daerah si fulan. Mereka dilempari batu dari langit seperti kaum Luth. Kemudian dihembuskan angin jahat yang tidak membawa kebaikan yang pernah membinasaknan kaum 'Ad; termasuk golongan dan kampung mereka. Ini semua karena mereka minum-minuman keras, pakai sutra, mengambil para penyanyi, makan riba, memutuskan silaturrahmi".
Ada yang terlupakan perawi hadits, Ja'far dan Imam Baihaqi dalam Kitab Ausath-nya.

Melalui Jabir RA, dia berkata:
Pernah Nabi SAW keluar ketika kami berkumpul, beliau bersabda:
"Ya Ma'siral muslimin...., bertaqwalah kepada Allah dan sambungkan silaturrahmi, sebab sungguh tiada pahala yang cepat dimiliki dari silaturrahmi. Dan takutilah perbuatan menganiaya, sebab tiada yang paling cepat siksanyanya dari penganiayaan. Takutilah menentang kedua orang tua, sebab bau surga yang tercium dalam radius 1000 tahun perjalanan tidak tercium olehnya. Demi Allah! Tidak akan menemukan bagi penentang orang tua, pemutus silaturrahmi, tua renta, berzina, orang yang menyeret sarung karena sombong; sesungguhnya Kebesaran hanya milik Allah yang menguasai semua makhluk".

Kata Al Ashbahaani:
Ketika kami duduk bersama Rasulullah SAW tiba-tiba beliau SAW bersabda:
"Orang-orang yang memutuskan silaturrahmi jangan berkumpul bersama kami".
Dan salah seorang pemuda ada yang berdiri dan langsung menemui bibinya, dimana hubungan antara keponakan dan bibi ada yang kurang beres. Ia minta maaf pada bibinya, demikian juga bibi. Lalu ia kembali ke majelis bersama Rasulullah SAW. Lalu Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya Rahmat tidak akan turun terhadap suatu kaum yang disana ada yang memutuskan hubungan silaturrahmi. (HR.Imam Thabrani)".

Imam Thabrani dengan sanad shaheh, hadits melalui A'masy RA, katanya:
Bahwa Ibnu Mas'ud RA duduk berputar setelah berjama'ah shubuh, ia berkata:
"Allah menemukan orang yang memutuskan hubungan silaturahmi ketika ia berdiri dari kita, sebab kita menginginkan do'a kita kepada Tuhan terkabul, padahal pintu langit terkunci gara-gara orang yang memutuskan silaturrahmi".

Sanak keluarga itu tergantung di 'Arsy, berkata:
"Barangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya. (HR.Imam Syaikhan; Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi mengatakan hadits hasan shaheh, namun keshahehannya ditentang, sebab hadits ini sebenarnya mungqothi' putus sanadnya. Namun sambungannya menurut Imam Bukhari adalah salah)".
Dari Abdurrahman bin Auf RA. katanya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman:
"AKU adalah Allah, AKU adalah Yang Maha Penyayang; AKU menciptakan Rahmi (kekerabatan/persaudaraan) berasal dari Asma'-KU (Rahmat). Dan barangsiapa yang menyambung Rahmi, AKU akan menyambungnya. Dan barangsiapa yang memutuskan, AKU-pun memutuskannya".


Sabda Nabi SAW:
"Sesungguhnya barang riba-nya riba ialah membicarakan harga diri seorang muslim tanpa kebenaran. Sesungguhnya Rahmi adalah Syijnah dari Allah SWT. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah mengharamkan surga untuknya. (HR.Imam Ahmad dengan sanad Kuat dan Jayyid)".

Sesungguhnya Rahmi adalah syijnah dari Allah Yang Maha Penyayang, dia berkata:
"Ya Tuhanku, aku telah diputus, Ya Tuhanku, aku telah dianiaya, aku telah diperlakukan jahat, Ya Tuhanku, Ya Tuhanku".
Allah menjawab:
"Bukankah engkau sudah puas bila AKU menyambungkan yang mau menyambungmu! Dan memutuskan orang yang telah memutuskanmu. (HR.Imam Ibnu Hibban; shaheh)".


Lafadz "Syijnah" atinya saling menjalin, hubungan dekat, saling menjalin seperti menjalin tali.
Lafadz "Rahmi" berasal dari kata Ar Rahman:
"Artinya dari Allah Yang Maha Penyayang, sebagaimana dalam hadits berikutnya yang diriwayatkan oleh Imam Bazzar dengan sanad hasan, meriwayatkan:
"Rahmi ialah hujanah yang berpegang pada Arsy, ia berbicara dengan fasih: 'Ya Allah, sambungkanlah orang yang menyambungku dan putuskan orang yang memutuskanku".
Allah SWT berfirman:
"AKU adalah Tuhan Yang Rohman dan Rahim, dan AKU mengeluarkan dari Asma'KU; maka barangsiapa yang menyambungnya, AKU akan menyambung orang itu. Dan barangsiapa yang memutuskan, AKU akan memutuskannya".


Imam Al Bazar mengatakan:
Ada 2 perkara yang tergantung di Arsy:
1.Rahmi
Dia berkata:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-MU agar tidak diputuskan hubungan".
2. Amanah
Dia berkata:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-MU agar aku tidak diingkari".


Kata Imam Al Baihaqi:
"Kunci kematian digantung di Arsy, bila rahmi resah, maka kemaksiatan merajalela dan Allah tidak akan mengurusnya, dan Allah akan mengutus kunci mati dalam hati orang tersebut, dan ia tidak bisa berfikir lagi".
Imam Syaikhan meriwayatkan:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, sebaiknya ia mengatakan yang baik-baik atau diam saja".
Riwayat Imam Syaikhan:
"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditunda kematiannya, sebaiknya ia menyambung sanak kerabat (Rahim)".


Dari Abu Hurairah RA, ia berkata:
Aku pernah mendengar Nabi SAW bersabda:
"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditunda kematiannya, sebaiknya ia menyambung sanak keluarga".
Riwayat Imam Bukhari, lafadz Imam Tirmidzi:
"Belajarlah dari nenek moyangmu tentang menyambung sanak keluarga, sebab silaturrahmi bisa menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rizki dan menunda kematian, maksudnya menambah umur".


"Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan terhindar dari kematian dan kejahatan, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dengan menyambung sanak keluarga. (HR.Imam Bazar dengan sanad Jayyid; hadits melalui Abdullah bin Imam Ahmad dalam Kitab Zawa'idul Musnad. Dan Imam Hakim)".
Abu Ya'la berkata:
"Sesungguhnya lantaran sedekah dan silaturrahmi akan ditambahkan umur oleh Allah, akan dijauhkan dari kematian dan kejahatan dan terlindungi dari hal-hal yang ditakuti dan dibenci".


Riwayat Abu Ya'ala dengan sanad Jayyid; dari seorang lelaki melalui Khots'am:
Ketika Nabi SAW dalam rombongan sahabatnya aku datang kesana dan berkata:
"Apakah engkau yang mengaku utusan Allah".
Beliau SAW menjawab:
"Ya".
Khots'am berkata:
"Lalu amal mana yang baik dan dicintai Allah SWT".
Nabi SAW menjawab:
"Iman kepada Allah".
Aku bertanya:
"Ya Rasul, lalu apa lagi".
Beliau menjawab:
"Silaturrahmi".
Aku bertanya lagi:
"Ya Rasul, mana amal yang dibenci Allah".
Jawab Nabi SAW:
"Menyekutukan Allah".
Kataku:
"Apa lagi".
Jawab beliau SAW:
"Memutuskan hubungan keluarga".
Tanyaku:
"Apa lagi".
Sabda beliau SAW:
"Ialah memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran".


Imam Bukhari Muslim meriwayatkan:
Ada seorang badui mengganggu Rasulullah SAW ketika dalam perjalanan. Orang badui tersebut memegang tali unta, dan berkata:
"Ya Rasul atau Muhammad, beritahukan aku amalan yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka".
Nabi SAW diam sambil memandangi para sahabatnya, kemudian bersabda:
"Ia benar-benar memperoleh pertolongan Allah, atau sungguh ia sudah memperoleh petunjuk".
Badui bertanya lagi:
"Apa yang akan kau katakan wahai Nabi".
Katanya berkali-kali, sampai Nabi SAW bersabda:
"Sembahlah Allah jangan menyekutukan dengan sesuatu selain-Nya; dirikanlah shalat, keluarkan zakat, dan sambung silaturrahmi".
Dalam riwayat lain:
"Kamu menyambung orang yang punya hubungan famili denganmu".
Dan ketika badui pergi, Nabi SAW bersabda:
"Kalau dia memang erat apa yang kukatakan tentu akan masuk surga".


Imam Thabrani meriwayatkan hadits dengan sanad hasan:
"Sesungguhnya Allah akan membuat ketentraman pada perkampungan yang dihuni manusia dengan melipatgandakan kekayaan".
Namun Allah sebenarnya tidak memandang mereka sejak Dia menciptakan mereka lantaran murka padanya. Kemudian ada yang bertanya pada beliau SAW:
"Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Nabi".
Beliau SAW bersabda:
Disebabkan sikap silaturrahmi mereka".


Imam Ahmad meriwayatkan hadits dengan adil sekalipun ada unsur terputus:
"Barangsiapa yang dianugerahi sikap hati-hati, artinya telah dianugerahi bagian dari kebajikan dunia dan akherat; ialah silaturrahmi dalam bertetangga atau menjalin kebajikan budi yang menjadikan makmurnya suatu daerah dan menambah umur".
Abu Syaikh, Imam Ibnu Hibban dan Imam Baihaqi bertanya:
"Ya Rasul, manusia bagaimana yang paling utama".
Beliau SAW besabda:
"Ialah yang bertaqwa kepada Allah, rajin menyambung silaturrahmi dan memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran".


Imam Thabrani dan Imam Ibnu Hibban dan shahehnya meriwayatkan hadits milih Ibnu Hibban, melalui Abu Dzar RA. Dia berkata:
Kekasihku Nabi Muhammad SAW telah berwasiat tentang beberapa kebajikan:

  1. Beliau berwasiat agar tidak memandang orang diatasku, namun mengukur orang yang berada dibawahku.
  2. Mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.
  3. Menyambung tali silaturrahmi sekalipun mereka berpaling.
  4. Tidak takut akan urusan Allah dan hinaan orang lain.
  5. Berkata yang benar walaupun sakit.
  6. Memperbanyak bacaan "Laa haula walaa quwwata illaa billlaahh.... sebab bacaan ini merupakan simpanan kekayaan di surga.
Imam Syaikhan dan lain-lain meriwayatkan, hadits melalui Maimunah RA:
Sesungguhnya ia memerdekakan budak walidahnya tanpa minta izin dari Nabi Muhammad SAW. Ketika saat gilirannya ia menerangkan:
"Apakah kamu mengerti wahai Nabi, bahwa aku telah memerdekakan budak walidahku".
Beliau SAW bertanya:
"Benar kamu melakukannya".
Dia menjawab:
"Ya".
Sabda beliau SAW:
"Bila kamu memberikannya pada paman-pamanmu, engkau akan memperoleh pahala lebih besar".


Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim menceritakan:
Ada lelaki datang pada Nabi SAW, dia berkata:
"Sesungguhnya aku telah melakukan dosa besar, apakah ada peluang tobat untukku".
Beliau SAW menjawab:
"Apa kamu masih punya ibu".
Katanya:
"Tidak".
Beliau SAW bertanya lagi:
"Apakah masih punya bibi".
Jawabnya:
"Punya".
Sabda beliau SAW:
"Maka berbuat baik padanya".


Imam Bukhari meriwayatkan, lainnya berkata:
"Bukanlah orang yang bersilaturrahmi itu menyeimbangkan, melainkan orang bersilaturrahmi ialah manakala rahmi-nya memutuskan tali kekerabatan lantas dia menyambungnya".
Imam Tirmidzi berkata dalam hadits hasan:
"Janganlah kamu menjadi orang Imma'ah (menyeimbangkan), yakni kamu berpedoman: 'Bila ia berbuat baik padaku tentu aku berbuat baik padanya. Bila ia berbuat aniaya padaku tentu aku akan menganiaya mereka. Imma'ah artinya orang yang tidak punya pendirian dan selalu mengikuti pendapat orang lain".


Muslim berkata:
"Ya Rasul, aku telah memiliki kerabat yang aku dekati, namun mereka selalu memutuskan hubunganku, mereka berbuat jahat, aku santuni mereka, dan mereka berbuat bodoh padaku".
Beliau SAW bersabda:
"Kalau dirimu seperti yang kau ucapkan, maka seolah-olah kamu memberikan makan abu panas pada mereka, dan Allah tidak akan berhenti menolongmu atas mereka selama kamu seperti itu".


Imam Thabrani, Ibnu Huzaimah dalam shahehnya, dan Imam Hakim berkata, (Hadits ini shaheh menurut Imam Muslim):
"Utama-utamanya sedekah ialah terhadap orang yang memiliki hubungan sanak yang 'Kasyih', maksudnya orang yang bermusuhan dalam tali kasih".
(Kasyih-tikarnya/keluarganya), dimana suatu kiasan mengenai batiniah. Kalimah ini senada dengan sabda Nabi SAW:
"Dan kamu menyambung silaturrahmi dengan orang-orang yang memutuskanmu".


Imam Al Bazzar, Imam Thabrani dan Imam Hakim meriwayatkan hadits shaheh, namun masih ada yang menentang akan keshahehannya:
Ada 3 hal; barangsiapa dengan 3 hal itu Allah akan menghisab amalnya dengan hisab yang mudah dan memasukkan ke surga lantaran Rahmat-Nya. Mereka bertanya:
"3 hal apa, Ya Rasul".
Beliau SAW menjawab:
"Engkau memberi orang yang mencegahmu, menyambung silaturrahmi dengan yang memutuskanmu, dan memaafkan orang yang menganiaya kamu; bila kamu mengerjakan semua itu akan dimasukkan Allah ke surga".


Imam Ahmad meriwayatkan:
Ada 2 sanad yang salah satunya hadits dengan perawi adil; melalui Uqbah bin Amir RA. Dia berkata:
Aku bertemu Rasulullah SAW dan aku memegang tangannya:
"Ya Rasul, beritahukan padaku amal-amal yang paling utama".
Beliau SAW pun bersabda:
"Hai Uqbah, sambunglah orang yang memutuskanmu, beri orang yang mencegahmu, dan maafkan orang yang menganiaya kamu".
Imam Hakim menambah:
"Ingatlah, barangsiapa yang ingin ditambah umurnya dan diluaskan rizkinya, hendaklah ia menyambung silaturrahmi".


Imam Thabrani dengan sanad yang dibuat dasar meriwayatkan:
"Maukah kalian kutunjukkan perilaku terbaik di dunia dan akherat. Yaitu sambunglah orang yang memutuskan kamu, berilah orang yang menghalangimu dan maafkan orang yang menganiaya kamu".
Kata Al Bazzar:
"Maukah kalian kutunjukkan perbuatan yang derajat kalian bisa diangkat Allah".


Riwayat Imam Thabrani:
"Maukah kalian kuberitahu suatu perbuatan, dimana Allah akan memuliakan bangunan dan mengangkat derajat kalian".
Mereka berkata:
"Mau, Ya Rasul".
Beliau SAW pun bersabda:
"Santunilah orang yang telah berbuat bodoh terhadap kalian, memaafkan orang yang menganiaya kalian, memberi orang yang menghalangi kalian dan menyambung orang yang memutuskan kalian".


Ibnu Majjah meriwayatkan:
"Kebajikan yang cepat memperoleh pahala ialah berbuat baik dan bersilaturrahmi. Dan kejahatan yang paling cepat mendapat siksa ialah menganiaya dan memutuskan silaturrahmi".
Imam Thabrani meriwayatkan:
"Tak ada dosa yang akan dipercepat siksanya oleh Allah di dunia dan disimpan untuk di akherat kecuali dosa memutuskan hubungan silaturrahmi, berkhianat dan bohong. Sedangkan kebaikan yang cepat memperoleh pahala ialah silaturrahmi. Sehingga kalau ada penghuni rumah yang menyimpang, hartanya tetap semakin banyak dan jumlah mereka juga banyak bila mau bersilaturrahmi".

No comments:

Post a Comment

Silahkan Beri Komentar Pada Setiap Postingan Disini Karena Komentar Anda Sangat Berarti Demi Kepentingan Bersama dan Blog ini Tapi Alangkah Baik dan Indahnya Jika Berkomentar Dengan Adab dan Sopan Santun

"Please, Don't SPAM"

script type="text/javascript"