• Saturday, September 5, 2015

    Hukum Menerima Petaruh / Barang Titipan (Kitab Mu'amalat Bagian 37)

    Hukum Menerima Petaruh (Kitab Mu'amalat Bagian 37)

    Hukum Menerima Petaruh / Barang Titipan (Kitab Mu'amalat Bagian 37)

    1. Sunnah, bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup menjaga barang titipan (petaruh) yang diserahkan kepadanya. Memang menerima barang titipan adalah sebagian dari tolong-menolong yang diingini oleh agama Islam. Hukum ini sunnah apabila ada orang lain dapat dipetaruhi, tetapi kalau tidak ada yang lain hanya dia sendiri, ketika itu wajib atasnya menerima petaruh yang dikemukakan kepadanya.

    2. Haram. Apabila dia tidak kuasa atau tidak sanggup menjaganya sebagaimana mestinya karena seolah-olah ia membukakan pintu untuk kerusakan atau lenyapnya barang yang dititipkan itu.

    3. Makruh. Terhadap orang yang dapat menjaganya tetapi ia tidak percaya kepada dirinya, boleh jadi di kemudian hal itu akan menyebabkan dia khianat terhadap barang yang dititipkan kepadanya.

    Rukunnya :

    1. Barang yang dipertaruhkan (dititipkan).
    Syaratnya keadaan barang, sah dimiliki.

    2. Yang berpetaruh (Orang yang menitipkan) dan Yang Menerima Petaruh (Orang yang menerima titipan).
    Syarat keduanya seperti keadaan wakil dan yang berwakil, tiap-tiap orang yang sah berwakil atau menjadi wakil, sah pula menerima petaruh atau berpetaruh.

    3. Lafaz.
    Seperti: "Saya pertaruhkan barang ini kepada engkau". Jawabnya: "Saya terima petaruhmu". Atas kata yang sah tidak disyaratkan adanya lafaz qabul, tetapi cukup dengan perbuatan (menerima barang yang dipertaruhkan). Hadits aqad Wadi'ah, dengan mati salah seorang dari yang berpetaruh, atau yang menerima petaruh, begitu juga disebabkan karena gila salah seorang atau minta berhenti.
     Aqad petaruh adalah aqad percaya mempercayai, oleh karena demikian yang menerima petaruh tidak mengganti apabila barang yang dipetaruhkan hilang atau rusak. Kecuali apabila rusak dengan sebab keteledoran atau kurang penjagaan, berarti tidak dijaga menurut sebagaimana mestinya.

    Peringatan

    Bila seseorang yang menyimpan petaruh, sudah begitu lama sehingga ia tidak tahu lagi dimana atau siapa yang mempunyainya dan dia sudah pula berusaha mencari dengan secukupnya, namun tidak juga didapatnya keterangan yang jelas, maka barang itu boleh dipergunakan untuk kepentingan umat Islam dengan mendahulukan yang lebih penting dari yang penting.
    »»  READMORE...

    Wadi'ah / Petaruh / Barang Titipan (Kitab Mu'amalat Bagian 36)

    Wadi'ah / Petaruh (Kitab Mu'amalat Bagian 36)

    Wadi'ah / Petaruh / Barang Titipan (Kitab Mu'amalat Bagian 36)

    Petaruhyaitu menitipkan sesuatu barang kepada orang lain agar dia dapat memelihara dan menjaganya menurut mestinya.

    Firman Allah SWT:
    "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu agar supaya kamu membayarkan petaruh yang diserahkan kepada kamu terhadap yang punya. QS.An Nisa:58".

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Abu Hurairah, Nabi SAW telah bersabda: Bayarkanlah petaruh itu kepada orang yang mempercayai engkau, dan jangan sekali-kali engkau khianat, meskipun terhadap orang yang telah khianat kepadamu. HR.Tirmidzi".
    »»  READMORE...

    Keadilan Terhadap Beberapa Anak (Kitab Mu'amalat Bagian 35)

    Keadilan Terhadap Beberapa Anak (Kitab Mu'amalat Bagian 35)

    Keadilan Terhadap Beberapa Anak (Kitab Mu'amalat Bagian 35)

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Nu'man, berkata Nabi SAW: Hendaklah kamu adil antara beberapa anak kamu. Perkataan ini beliau ulangi sampai tiga kali. HR.Ahmad, Abu Daud dan Nasai".

    Maka dengan hadits ini, timbul dua pendapat antara beberapa ulama yang terkemuka.

    1. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa menyamakan pemberian antara beberapa anak hukumnya sunnah, alasannya dengan mengartikan suruhan dalam hadits tersebut adalah suruhan sunnah, bukan wajib karena ada qarinah.

    2. Sebagian ulama berpendapat bahwa wajib disamakan. Golongan ini beralasan juga dengan hadits tersebut dan mereka memahamkan arti suruhan dalam hadits itu dengan makna wajib.

    Perbedaan faham tersebut, apabila hajat/butuh antara beberapa anak itu sama, tetapi apabila hajat tidak sama, tidak ada halangan mengadakan pembagian yang berlebih berkurang.

    Mencabut Pemberian

    Pemberian yang sudah diberikan dan sudah diterima, tidak boleh dicabut kembali, kecuali pemberian bapak kepada anaknya tidak berhalangan mencabutnya atau memintanya kembali.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, telah bersabda Nabi besar SAW: Tidak halal bagi seorang laki-laki yang muslim bila ia memberikan sesuatu kemudian dicabutnya kembali (diambilnya lagi), kecuali pemberian bapak kepada anaknya. HR.Ahmad dan Disahkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban".

    Dibolehkan kepada bapak mencabut pemberiannya kepada anaknya karena ia berhak menjaga kemaslahatan anaknya, juga cukup dia menaruh perhatian (kasih sayang kepada anaknya).

    Sungguh tidak berhalangan atas bapak mencabut pemberian kepada anaknya, tetapi dengan syarat: Barang yang diberikan itu masih dalam kekuasaan anaknya, berarti masih tetap kepunyaan anaknya meskipun sedang dirungguhkan (dijaminkan). Maka apabila telah hilang milik anak, si bapak tidak boleh mencabut pemberiannya lagi walaupun barang itu kembali kepada anak dengan jalan lain. Boleh bagi bapak mengambil harta anaknya apabila dia membutuhkannya.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Aisyah, Rasulullah SAW telah bersabda: Anak seorang laki-laki adalah dari sebaik-baik usahanya, maka oleh karenanya tidak ada halangan bagi laki-laki mengambil harta anaknya. HR.Ahmad".
    »»  READMORE...

    Hibbah, Sadaqah, Hadiah (Kitab Mu'amalat Bagian 34)

    Hibbah, Sadaqah, Hadiah (Kitab Mu'amalat Bagian 34)

    Hibbah, Sadaqah, Hadiah (Kitab Mu'amalat Bagian 34)

    1. Hibah: Memberikan zat dengan tidak ada tukarannya dan tidak ada karenanya.

    2. Sadaqah: Memberikan zat dengan tidak ada tukarannya karena mengharapkan pahala di akhirat.

    3. Hadiah: Memberikan zat dengan tidak ada tukarannya serta dibawa ke tempat yang diberi karena hendak memuliakannya.

    Firman Allah SWT:
    "Diantara beberapa kebaikan yang tersebut dalam ayat: Memberikan harta benda yang dikasihi kepada keluarganya yang miskin dan kepada anak yatim dan orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan kepada orang-orang yang minta (karena tidak punya). QS.Al Baqarah:177".

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW telah bersabda: Sekiranya saya diundang untuk makan sepotong kaki binatang pasti akan saya kabulkan undangan tersebut, begitu juga kalau sepotong kaki binatang dihadiahkan kepada saya tentu akan saya terima. HR.Bukhari".

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Khalid bin Adi, sesungguhnya Nabi besar SAW telah bersabda: Barangsiapa yang diberi oleh saudaranya kebaikan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak dia minta, hendaklah diterimanya (jangan ditolak); sesungguhnya yang demikian itu pemberian yang diterima oleh Allah kepadanya. HR.Ahmad".

    Rukunnya:

    1. Yang Memberi.
    Syaratnya, orang yang berhak memperedarkan hartanya dan memiliki barang yang diberikan, maka anak kecil, orang gila, dan yang menyia-nyiakan harta, semua mereka tidak sah memberikan harta benda mereka kepada yang lain, begitu juga wali terhadap harta benda yang diserahkan kepadanya.

    2. Yang Diberi.
    Syaratnya berhak memiliki. Tidak sah kepada anak yang dalam kandungan ibunya dan kepada binatang karena keduanya tidak dapat memiliki.

    3. Ijab dan Qabul.
    Seperti kata yang memberi: "Saya berikan ini kepada engkau". Jawabnya: "Saya terima". Kecuali sesuatu yang menurut kebiasaan memang tidak dengan ijab dan qabul, seperti seorang istri menghibahkan gilirannya kepada madunya dan bapak memberikan pakaian kepada anaknya yang masih kecil, tetapi apabila suami memberikan perhiasan kepada istrinya, tidaklah menjadi milik istrinya, melainkan dengan ijab dan qabul. Perbedaan antara pemberian bapak kepada anak dan pemberian suami kepada istri ialah bapak wali anaknya dan suami bukanlah wali terhadap istrinya. Pemberian waktu perayaan menyunat anak, hendaklah dilakukan menurut adat yang berlaku di satu-satu tempat tentang perayaan itu.

    4. Barang Yang Diberikan.
    Syaratnya hendaknya barang yang boleh dijual, kecuali:

    a. Barang-barang yang kecil seperti dua atau tiga biji beras, tidak sah dijual tetapi sah diberikan.

    b. Barang yang tidak diketahui, tidak sah dijual tetapi sah diberikan.

    c. Kulit bangkai sebelum di samak. Tidak sah dijual tetapi sah diberikan.

    Tetapnya Pemberian Menjadi Milik

    Barang yang diberikan belum menjadi milik orang yang diberi melainkan sesudah diterimanya, tidak dengan semata-mata aqad. 

    Keterangan:
    "Pernah Nabi besar SAW memberikan 30 buah kasturi kepada Najasyi, kemudian Najasyi meninggal dunia sebelum diterimanya, Nabi besar SAW mencabut pemberian itu sesudah Najasyi mati".

    Kalau mati salah seorang yang memberi atau yang diberi sebelum menerimanya, waris salah seorang boleh menerima atau menerimakan barang yang telah diaqadkan itu dan boleh juga mencabutnya.
    »»  READMORE...

    Wednesday, September 2, 2015

    'Ariyah / Pinjam Meminjam (Kitab Mu'amalat Bagian 33)

    'Ariyah / Pinjam Meminjam (Kitab Mu'amalat Bagian 33)

    'Ariyah / Pinjam Meminjam (Kitab Mu'amalat Bagian 33)

    'Ariyah yaitu memberikan manfaat sesuatu yang halal kepada yang lain untuk diambil manfaatnya dengan tidak merusakkan zatnya agar dapat dikembalikan zat barang ituu.

    Tiap-tiap yang mungkin diambil manfaatnya dengan tidak merusakkan zat barang itu, boleh dipinjam atau dipinjamkan.

    Firman Allah SWT:
    "Bertolong-tolonganlah kamu atas kebaikan dan taqwa kepada Allah dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan bermusuhan. QS.Al Maidah:2".

    Meminjamkan sesuatu berarti menolong yang meminjam.

    Firman Allah SWT:
    "Enggan mereka, meminjamkan barang-barang keperluan rumah tangga". (seperti jarum, timba dan lain-lain keperluannya yang kecil-kecil). QS.Al Ma'un:7".

    Dalam surah ini telah diterangkan beberapa perkara yang tidak baik, diantara hubungan bertetangga yang tidak hendak pinjam meminjam seperti yang tersebut.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Pinjaman wajib dikembalikan dan orang yang menjamin sesuatu harus membayar. HR.Abu Daud dan Tirmidzi".

    Hukum Meminjamkan

    Asal hukum meminjamkan sesuatu barang adalah sunnah, seperti tolong-menolong yang lain, kadang-kadang menjadi wajib seperti meminjamkan kain kepada orang yang terpaksa dan meminjamkan pisau untuk menyembelih binatang yang hampir mati. Juga terkadang-kadang haram, kalau yang dipinjam itu akan berguna untuk sesuatu yang haram.

    Qaidah:
    "Jalan menuju sesuatu, hukumnya sama dengan hukum yang dituju
  • Penjelasan:
    Misalnya: Seseorang yang menunjukkan jalan kepada pencuri, keadaannya sama dengan yang melakukannya pencurian itu.
  • ".


    Rukun Meminjam

    1. Yang meminjamkan, syaratnya:

    a. Ahli (berhak) berbuat kebaikan sekehendaknya, anak kecil dan orang yang dipaksa tidak sah memnijamkan.

    b. Manfaat barang yang dipinjam dimiliki oleh yang meminjamkan, walau dengan jalan wakaf atau menyewa sekalipun karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat, bukan bersangkutan dengan zat. Oleh karenanya yang meminjam tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya, karena manfaat barang yang dipinjam bukan miiliknya. Hanya dia diizinkan mengambilnya, tetapi membagikan manfaat yang boleh diambilnya kepada yang lain tidak berhalangan seperti dia meminjam rumah lamanya satu bulan, ditinggalinya hanya 15 hari, sisanya 15 hari lagi boleh diberikannya kepada orang lain.

    2. Yang meminjam juga hendaklah dia seorang yang ahli (berhak) menerima kebaikan terkecuuali anak kecil atau gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak berhak) menerima kebaikan.

    3. Barang yang dipinjam, syaratnya:

    a. Barang yang tentu ada manfaatnya.

    b. Sewaktu diambil manfaatnya zatnya tetap (tidak rusak); oleh karenanya makanan dengan sifat makanan untuk dimakan, tidak sah dipinjamkan.

    4. Lafaz. Kata setengah orang sah dengan tidak berlafaz.

    Mengambil Manfaat Barang Yang Dipinjam

    Yang meminjam boleh mengambil manfaat dari barang yang dipinjamnya, hanya sekedar menurut izin dari yang punya, atau kurang dari yang diizinkan. Umpama dia meminjam tanah untuk menanam padi, dia dibolehkan menanam padi dan yang sama umurnya dengan padi, atau yang kurang seperti kacang. Tidak boleh dipergunakan untuk tanaman yang lebih lama dari padi, terkecuali kalau tidak ditentukan masanya, dia boleh menanam menurut kehendaknya.

    Hilangnya Barang Yang Dipinjam

    Kalau barang yang dipinjam hilang atau rusak dengan sebab pemakaian yang diizinkan, yang meminjam tidak mengganti karena pinjam meminjam itu berarti percaya mempercayai, tetapi kalau dengan sebab lain dia wajib mengganti.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Shafwan bin Umaiyah: Sesungguhnya Nabi SAW telah meminjam beberapa baju perang dari Shafwan pada waktu peperangan Hunain. Shafwan bertanya kepada Rasulullah SAW: "Paksaankah, ya Muhammad?". Jawab Rasulullah: "Bukan tetapi pinjaman yang dijamin". Kemudian hilang sebagian maka Rasulullah mengemukakan kepada Shafwan bahwa akan digantinya. Shafwan berkata: "Saya sekarang telah mendapat kepuasan dalam Islam". HR.Ahmad dan Nasai".

    Menurut pendapat yang lebih kuat, kerusakan yang hanya sedikit disebabkan karena dipakai yang dengan izin tidaklah patut diganti karena terjadinya sebab pemakaian yang diizinkan.

    Qaidah:
    "Ridha kepada sesuatu berarti ridha pula kepada akibatnya".

    Mengembalikan Yang Dipinjam

    Kalau mengembalikan barang yang dipinjam tadi butuh kepada ongkos, maka ongkos itu hendaklah dipikul oleh yang meminjam.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Dari Samurah, telah berkata Nabi besar SAW: Tanggung jawab barang yang diambil atas yang mengambil sampai dikembalikannya barang itu. HR.Lima Orang Ahli Hadits Selain Dari Nasai".

    Pada tiap-tiap waktu yang meminjam dan yang meminjamkan tidak berhalangan buat mengembalikan/minta kembali pinjaman karena 'Ariyah, aqad yang tidak tetap. Kecuali apabila meminjam untuk perkuburan, maka dia tidak boleh dikembalikan sebelum hilang bekas-bekas mayat, berarti sebelum mayat hancur menjadi tanah dia tidak boleh meminta kembali. Atau dipinjamkan tanah untuk menanam padi tidak boleh diminta kembali sebelum mengetam. Ringkasnya keduanya boleh memutuskan aqad asal tidak merugikan kepada salah seorang diantara kedunya. Juga putus aqad 'Ariyah dengan sebab mati salah seorang dari yang meminjam atau yang meminjamkan, begitu juga dengan sebab gila, maka apabila mati yang meminjam wajib atas warisnya mengembalikan barang pinjaman dan tidak halal bagi mereka memakainya, kalau mereka pakai juga, mereka wajib membayar sewanya. Kalau berselisih antara yang meminjamkan dengan yang meminjam (kata yang pertama barang belum dikembalikan sedang yang kedua mengaku sudah dikembalikannya) hendaklah dibenarkan yang meminjamkan dengan sumpahnya karena yang asal belum kembali.

    Sesudah yang meminjam mengetahui bahwa yang meminjamkan sudah memutuskan aqad, dia tidak boleh memakai barang yang dipinjamnya.
    »»  READMORE...

    Berwakil (Kitab Mu'amalat Bagian 32)

    Berwakil (Kitab Mu'amalat Bagian 32)

    Berwakil (Kitab Mu'amalat Bagian 32)

    Berwakil yaitu menyerahkan pekerjaan yang boleh dikerjakannya kepada yang lain, agar dikerjakannya (wakil) semasa hidupnya (yang berwakil).

    Hukum berwakil sunnah, kadang-kadang menjadi wajib kalau terpaksa, dan haram kalau pekerjaan yang diwakilkan itu pekerjaan yang haram, dan makruh kalau pekerjaan itu makruh.

    Firman Allah SWT:
    "Maka utuslah olehmu salah seorang diantara kamu ke kota dengan uang kamu ini. QS.Al Kahfi:19".

    Utusan tersebut wakil mereka semua.

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Berkata Abu Hurairah: Telah berwakil Nabi SAW kepada saya untuk memelihara zakat fithrah dan beliau telah memberi 'uqbah seekor kambing agar dibagikan kepada sahabat-sahabat beliau. HR.Bukhari".

    Rukun Berwakil:

    1. Yang berwakil dan wakil. Syarat keduanya hendaklah masing-masing memang sah mengerjakan pekerjaan itu dengan sendirinya (tiap-tiap pekerjaan yang boleh dikerjakannya sendiri dia boleh berwakil untuk mengerjakannya, dan dia boleh menjadi wakil pada pekerjaan itu). Oleh karenanya, anak kecil atau orang gila tidak sah berwakil dan tidak pula menjadi wakil.

    2. Pekerjaan yang diserahkan, syaratnya:

    a. Keadaan pekerjaan boleh digantikan oleh orang lain, oleh karenanya tidak sah berwakil untuk mengerjakan ibadah.

    b. Pekerjaan itu telah menjadi kepunyaan yang berwakil sewaktu dia berwakil; oleh karenanya tidak sah berwakil menjual barang yang belum dimilikinya.

    c. Keadaan pekerjaan itu diketahui.

    3. Lafaz; Keadaan lafaz, hendaklah kalimat yang menunjukkan atas ridhanya yang berwakil seperti kata yang berwakil: "Saya wakilkan atau saya serahkan kepada engkau unruk mengerjakan pekerjaan ini". Dan tidak disyaratkan lafaz qabul (jawab) karena berwakil masuk hukum membolehkan sesuatu seperti membolehkan memakan makanan kepada orang yang mau makan makanan itu.

    Yang menjadi wakil tidak boleh berwakil pula kepada orang lain, kecuali dengan izin dari yang berwakil, atau karena terpaksa umpama pekerjaan yang diwakilkan amat banyak sehingga tak dapat dikerjakan sendiri oleh wakil, maka dia boleh berwakil untuk mengerjakan yang tidak dapat dia mengerjakannya.

    Izin dari yang berwakil seperti dia berkata: "Carilah wakil dirimu sendiri, maka wakil yang kedua berarti wakil dari wakil yang pertama, berhenti ia dengan berhentinya wakil yang pertama. Kalau yang berwakil berkata: "Berwakillah dari saya, atau tidak diterangkan dari siapa, maka yang kedua wakil dari yang berwakil, jadi dia tidak berhenti dengan sebab berhentinya wakil yang pertama. Sewaktu wakil boleh berwakil sebagai tersebut diatas dia wajib mencari wakil yang dipercayainya agar kemaslahatan yang berwakil terjaga dengan baik, kecuali apabila ditentukan oleh yang berwakil maka ia harus turut sebagai ketentuannya.

    Berwakil, aqad yang tidak mesti terus, berarti yang berwakil dan wakil boleh memberhentikan perwakilan antara keduanya bila saja dikehendaki (sembarang waktu). Wakil adalah seorang yang dipercayai dari pihak yang berwakil, oleh karenanya apabila rusak atau hilang suatu yang diwakilkan, wakil tidak mengganti, kecuali keteledorannya. Wakil tidak boleh menjual atau membeli melainkan dengan uang dan harga biasa di waktu itu, pun dia tidak boleh menjual dengan rugi yang banyak. Juga dia tidak sah menjual barang yang diwakilkan kepadanya untuk dirinya sendiri.
    »»  READMORE...

    Iqrar / Pengakuan (Kitab Mu'amalat Bagian 31)

    Iqrar / Pengakuan (Kitab Mu'amalat Bagian 31)

    Iqrar / Pengakuan (Kitab Mu'amalat Bagian 31)

    Iqrar yaitu mengakui akan kebenaran sesuatu yang bersangkutan atas dirinya untuk orang yang lain, umpama seorang berkata: "Saya mengaku bahwa saya telah minum arak, atau saya mengaku bahwa saya berutang kepada orang ini".

    Firman Allah SWT:
    "Hendaklah kamu bersungguh-sungguh untuk menjalankan keadilan dalam urusan saksi, karena Allah, sekalipun kamu bersaksi atas diri kamu sendiri. QS.An Nisa:138".

    Kata ahli tafsir, saksi atas diri sendiri, itulah yang dimaksud dengan iqrar.

    Hikmahnya:

    Untuk membuktikan (mentahkikkan) kebenaran, melahirkan budi pekerti yang baik dan menjauhkan diri dari sesuatu yang batil.

    Rukun Iqrar:

    1. Yang mengaku.
    Disyaratkan keadaannya ahli tasharruf dan sekehendaknya (dengan kemauan sendiri).

    2. Yang diakui baginya (muqar lah).
    Hendaklah keadaannya berhak memiliki sesuatu yang diakuinya.

    3. Hak yang diakui.
    Disyaratkan keadaan hak, bukan kepunyaan yang mengakui ketika ia iqrar.

    4. Lafaz.
    Syarat lafaz hendaklah menunjukkan akan ketentuan hak yang diakui.

    Hak yang diakui tadi, kalau hanya hak yang bersangkutan dengan Allah, seperti minum arak umpamanya, yang mengaku boleh ruju' (membatalkan pengakuan yang sudah diakuinya) umpama dia berkata sesudah ia mengaku: Saya sebenarnya tidak minum arak, apabila dia sudah ruju' siksaan minum tidak dilakukan kepadanya.

    Adapun hak yang diakui tadi, hak manusia, tidak sah dibatalkan. Kalau hak yang diakui itu kurang jelas, hendaklah diminta penjelasan dan penjelasan itu hendaklah diterima.
    »»  READMORE...

    Shulhu / Perdamaian (Kitab Mu'amalat Bagian 30)

    Shulhu / Perdamaian (Kitab Mu'amalat Bagian 30)

    Shulhu / Perdamaian (Kitab Mu'amalat Bagian 30)

    Shulhu yaitu aqad perjanjian untuk menghilangkan perdendaman, permusuhan atau perbantahan.

    Mengadakan perdamaian adalah suatu perkara yang amat terpuji, malahan disuruh dalam agama Islam.

    Firman Allah SWT:
    "Perdamaian itu amat baik. QS.An Nisa:128".

    Sabda Rasulullah SAW:
    "Perdamaian harus (boleh) antara Muslimin kecuali perdamaian yang menghalalkan barang yang haram atau mengharamkan yang halal. HR.Ibnu Hibban dan Tirmidzi".

    Macam-Macam Perdamaian

    1. Perdamaian antara Muslimin dengan yang bukan orang Islam.

    2. Perdamaian antara Imam dengan kaum bughah (kaum yang tidak tunduk kepada imam) = kaum pemberontak.

    3. Perdamaian antara suami istri.

    4. Perdamaian dalam urusan mu'amalat. Inilah yang banyak terjadi dan perlu sekali menjadi perhatian.
    »»  READMORE...
    script type="text/javascript"