Monday, February 8, 2016

Tujuan Perang (Kitab Jihad / Peperangan Bagian 1)

Tujuan Perang (Kitab Jihad / Peperangan Bagian 1)

Tujuan Perang (Kitab Jihad / Peperangan Bagian 1)

Tujuan perang yang menjadi pokok ialah untuk membela, memelihara dan meninggikan agama Allah. Islam mengizinkan berperang dengan menentukan sebab-sebab dan maksud yang dituju dari peperangan itu. Yaitu untuk menolak kedzaliman, untuk menghormati tempat-tempat ibadah, untuk menjamin kemerdekaan bertanah air, untuk menghilangkan fitnah dan untuk menjamin kebebasan setiap orang memeluk dan menjalankan agama.

Dalam hadits dijelaskan, bahwa berperang karena ingin kepada harta rampasan, ingin menampakkan keberanian, karena kemegahan, karena marah, dendam, menurut kata Rasulullah SAW, semua itu bukan yang dimaksud tetapi yang dimaksud berperang supaya agama Allah menjadi tinggi, terpelihara dari segala gangguan.

Sekarang marilah kita tinjau peperangan yang semacam itu dalam hukum Islam. Apa sebab-sebab dan alasan-alasan yang memperbolehkan orang berperang serta apa maksud dan tujuan peperangan itu menurut nash Al-Qur'an.

Firman Allah SWT:
"Diizinkan untuk melawan, mereka yang diperangi dengan aniaya dan sesungguhnya Allah kuasa memenangkan mereka, orang-orang yang diusir dari negerinya dengan tidak ada alasan yang benar, selain karena mereka berkata: Tuhan kami Allah. Jikalau Allah tidak memberi perlindungan kepada umat manusia memeluk agama masing-masing, niscaya hancur binasalah gereja-gereja Nasrani, Yahudi dan Masjid-Masjid orang Islam, tempat orang menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya. Dan sesungguhnya Allah menolong barangsiapa yang menolong Dia; sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Kuasa. Mereka yang bila Kami kuatkan kedudukannya di muka bumi, dikerjakannya shalat dan dikeluarkannya zakat serta dianjurkannya kebaikan dan dilarangnya dari kejahatan, dan bagi Allah terserah akibat semua pekerjaan. QS.Al Haj:39-41".

Firman Allah SWT:
"Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi, dan adalah agama semata-mata bagi Allah, jika mereka telah berhenti maka tidak ada serangan lagi melainkan atas orang-orang yang aniaya. QS.Al Baqarah:193".

Didalam ayat-ayat tersebut teranglah betapa Islam mengatasi semua faham dan ajaran. Disitu dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, bahwa maksud peperangan itu untuk menangkis serangan dan menghentikan kedzaliman dan keaniayaan. Oleh karena itu jika penyerang sudah menghentikan serangan dan kedzalimannya dan tidak membuat fitnah dan kekacauan lagi habislah kewajiban perang terhadap mereka itu, menurut hukum agama Islam. Berarti peperangan itu tidak boleh dimulai atau diteruskan lagi, kecuali atas mereka yang menganiaya atau mereka yang zalim, yang masih melakukan penganiayaan dan kedzaliman, yang masih suka menghasut-hasut, memfitnah-fitnahkan, mengacau dan memaksa-maksa orang meninggalkan agama atau merintangi orang beramal.

Menurut agama Islam membuat fitnah, memaksa dan merampas kemerdekaan orang memeluk dan menjalankan agamanya adalah kesalahan yang amat dimurkai Allah; lebih dimurkaiNya daripada membunuh orang.

Adapun ayat-ayat yang memerintahkan kaum Muslimin memerangi segenap kaum Musyrikin dimana juga mereka bertemu dengan tidak diberi ampun....perintah-perintah yang serupa itu ialah perintah sewaktu dalam peperangan, api peperangan sedang berkobar; bukan sebab untuk menyatakan perang.

Seperti Firman Allah Dalam Al-Qur'an:
"Perangilah kaum Musyrikin itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang taqwa. QS.At Taubah:36".

Firman Allah SWT:
"Perangilah mereka itu dimana kamu berjumpa, dan usirlah mereka darimana mereka telah mengusir kamu. QS.Al Baqarah:191".

Firman Allah SWT:
"Berangkatlah kamu ke medan perang berjalan kaki atau berkendaraan. Dan berperanglah kamu dijalan Allah dengan harta dan jiwa raga kamu. Demikianlah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui. QS.At Taubah:41".

Dari ayat-ayat ini dan sebagainya dapat kiranya kita mengerti, bahwa semuanya itu berkenaan dengan peristiwa sedang berkobarnya api peperangan. Disaat itulah hendaklah kaum Muslimin dikerahkan melawan dengan sebaik-baiknya, sampai tercapai kemenangan yang sempurna. Yaitu tercapainya keamanan dan kesentosaan bagi setiap pemeluk agama Allah dan sampai agama Allah tegak berdiri tidak diganggu dan difitnah lagi oleh pengacau dan perusak.

Selama petunjuk peperangan dan pengajaran yang baik-baik tidak dapat menghentikan kejahatan dan kekejaman, selama orang tidak suka hidup rukun dan damai terhadap sesamanya, selama ada orang yang tidak menghendaki keadilan dan kemerdekaan menjalankan agama, selama masih ada orang yang berniat jahat terus menerus untuk mendapat jalan melakukan kejahatannya itu, maka selama itu tentu peperangan tidak dapat dihindarkan. Dihadapan bukti-bukti kenyataan seperti tersebut Islam tidak akan tinggal diam, berpeluk tangan dan bersikap "masa bodoh", tetapi pasti dihadapinya dengan sikap yang tegas dan nyata.

Setiap Muslim diperintahkan supaya senantiasa siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Firman Allah SWT:
"Hendaklah kamu siapkan segala macam kekuatan dan memperjagakan barisan berkuda di perbatasan negeri untuk mempertakuti musuh Allah dan musuh kamu. QS.Al Anfal:60".

Adapun umat Islam diperintah mengadakan persiapan, kekuatan yang cukup untuk menghadapi setiap bangsa yang berniat jahat, mudah-mudahan dengan persiapan itu, niat jahat tadi tidak akan langsung dan peperangan tidak akan terjadi, sehingga terjaminlah keamanan dan perdamaian. Tetapi jika bencana peperangan itu tidak dapat juga dielakkan, sedangkan kita berada di pihak yang benar, maka kita baru diizinkan mengangkat senjata membela kebenaran.

Dan banyak lagi ayat-ayat yang bersangkutan dengan peperangan jika kita ikuti, kita pelajari dan kita periksa sebab-sebab turunnya serta kita selidiki pula peristiwa yang terjadi di masa hidup Rasulullah SAW yang mengenai peperangan-peperangan yang dilakukan di masa beliau, kita yakin bahwa peperangan yang diizinkan Islam ialah peperangan yang bersifat membela, bukan bersifat menyerang. Akan tetapi jika peperangan yang diizinkan itu telah dinyatakan, maka ketika itu setiap Muslimin dan Muslimat diwajibkan mengangkat senjata dengan tulus dan ikhlas selaku menunaikan kewajiban suci mentaati perintah pimpinan tertinggi yang ada di tangan Ulil-Amri.

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Meninggalkan Shalat (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 10)

Meninggalkan Shalat (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 10)

Meninggalkan Shalat (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 10)

Orang yang meninggalkan shalat lima waktu, kalau ia tinggalkan karena ingkar (membantah) akan wajibnya sedangkan ia tidak ada uzur maka ia dianggap kafir seperti "murtad" karena ia menyangkal (membantah) perintah Allah yang teristimewa, sefakat ulama atas wajibnya dan dapat diketahui dengan mudah. Orang yang semacam itu berarti juga mendustakan Allah dan RasulNya, ia wajib dihukum mati seperti orang-orang murtad, juga tidak dimandikan, tidak dishalatkan, tidak dikuburkan di perkuburan orang Islam.

Sabda Rasulullah SAW:
"Bedanya antara hamba Allah dengan kafir, ialah meninggalkan shalat. HR.Muslim".

Kalau seseorang meninggalkan shalat karena malas saja, sedangkan ia mengakui akan wajibnya, maka ia tetap dianggap orang Islam, dia wajib disuruh tobat. Kalau ia tobat (berarti ia kembali mengerjakan shalat), ia tidak dihukum mati. Tetapi kalau ia tidak mau tobat (tidak shalat), ia dihukum mati juga, hanya hukum mati disini dianggap siksaan karena dia masih dianggap orang Islam. Maka oleh karena itu dia dimandikan, dishalatkan, dan dikuburkan di perkuburan/pemakaman orang Islam.

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Riddah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 9)

Riddah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 9)

Riddah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 9)

Riddah yaitu keluar dari agama Islam, baik pindah kepada agama yang lain atau tinggal saja tidak beragama, sedang tadinya memeluk agama Islam.

Terjadi "Riddah" Dengan Tiga Sebab:

1. Dengan perbuatan yang mengkafirkan, seperti sujud kepada berhala, menyembah bulan, batu dan lain-lainnya.
2. Dengan perkataan yang mengkafirkan, seperti menghina Allah atau RasulNya, begitu juga memaki salah seorang Nabi Allah.
3. Dengan i'tiqad (keyakinan) seperti mengi'tiqadkan alam kekal, Allah baru, menghalalkan zina, menghalalkan minum arak, begitu juga mengharamkan yang disepakati ulama halalnya.

Orang yang keluar dari agama Islam (murtad) itu wajib disuruh tobat tiga kali. Kalau tidak juga dia mau tobat, wajib dihukum mati.

Firman Allah SWT:
"Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti dari kafirnya, niscaya Allah mengampuni dosanya yang telah lalu. QS.Al Anfal:38".

Sabda Rasulullah SAW:
"Berkata Rasulullah SAW: Orang-orang Islam yang telah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad pesuruhNya, mereka tidak halal dibunuh kecuali karena tiga sebab: Pertama tsaib (perempuan yang sudah pernah bersetubuh) berzina. Kedua orang yang membunuh orang. Ketiga orang yang keluar dari agamanya. HR.Jama'ah Ahli Hadits".

Apabila ia sudah dihukum mati, ia tidak boleh dimandikan dan tidak dishalatkan dan tidak dikuburkan di perkuburan/pemakaman orang Islam.

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Bughah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 8)

Bughah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 8)

Bughah (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 8)

Bughah yaitu kaum Muslimin yang tidak taat kepada Imam Muslimin (Khalifah) karena ada kekeliruan (keraguan) faham.

Apabila terjadi dalam Negara Islam kaum bughah, wajib atas Imam (Khalifah) memerangi mereka, dengan syarat-syarat yang berikut:

1. Bahwa ada pada mereka kekuatan, berarti mereka dapat melawan Imam.
2. Mereka telah keluar dari Imam (tidak ikut perintah Imam lagi).
3. Bahwa sebab mereka keluar dari Imam karena ada kekeliruan atau keraguan faham dan dengan kekeliruan faham ini mereka berpendapat bahwa mereka boleh keluar dari perlindungan Imam mereka.

Misalnya:

Satu partai dari Muslim dahulu keluar dari menaati Khalifah yang keempat (Ali bin Abi Thalib) karena mereka menyangka bahwa Khalifah tersebut mengetahui akan orang yang membunuh Khalifah ketiga ('Usman).

Cara memerangi "Bughah'' hendaklah dengan cara membela diri, berarti dengan tertib dari seenteng-entengnya, karena yang dimaksud supaya mereka kembali taat kepada Imam dan melenyapkan kejahatan mereka. Maka oleh karena itu kaum bughah yang tertawan tidak boleh dibunuh, harta mereka tidak dijadikan harta rampasan.

Firman Allah SWT:
"Jika dua partai diantara kaum Muslimin berperang-perangan hendaklah kamu perdamaikan antara keduanya, maka apabila salah satu diantara keduanya aniaya kepada yang lain hendaklah kamu perangi partai yang aniaya itu, sehingga ia kembali kepada perintah Allah. Jika ia kembali hendaklah kamu damaikan antara keduanya dengan adil. QS.Al Hujurat:9".

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Membela Diri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 7)

Membela Diri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 7)

Membela Diri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 7)

Membela diri adalah suatu kewajiban yang penting sekali pada tiap-tiap orang.

Firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu biarkan dirimu jatuh ke dalam kebinasaan. QS.Al Baqarah:195".

Jika sekiranya dengan sebab hendak membela diri atau keluarga atau harta, seseorang sampai membunuh orang yang menganiayanya ia tidak berdosa dan tidak diqisas. Umpama seorang teraniaya, dirinya atau keluarganya atau hartanya, kemudian dalam waktu membela diri itu ia terpaksa, tidak ada jalan untuk melepaskan penganiayaan itu melainkan dengan membunuh orang yang menganiayanya, maka tidak ada halangan ia membunuh orang itu dan ia tidak berdosa dan tidak diqisas karena pembelaannya.

Firman Allah SWT:
"Barang siapa yang menang membela dirinya sesudah ia teraniaya, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk menghukumnya. QS.As Syura:41".

Cara membela diri hendaklah dengan tertib. Pertama dengan yang seenteng-entengnya, kemudian yang lebih keras dan seterusnya. Umpamanya mula-mula dengan perkataan kemudian dengan meminta tolong, kemudian dengan memukul (alat pemukul juga harus dengan tertib. Pertama dengan cemeti, kemudian dengan tongkat. Kalau tidak juga terbela melainkan dengan perkakas yang tajam atau dengan pelor dan seterusnya). Ia boleh melakukan apa saja yang dipandangnya berguna untuk membelanya.

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Sunday, February 7, 2016

Larangan V Pasal Merampok (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 6)

Larangan V Pasal Merampok (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 6)

Larangan V Pasal Merampok (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 6)

Perampok ada empat macam:

1. Dengan jalan membunuh orang yang dirampoknya dan diambil hartanya, ini hukumnya wajib dibunuh, sesudah dibunuh, disalibkan (dijemur).
2. Dengan jalan membunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya, ia hanya wajib dibunuh saja.
3. Hanya mengambil harta benda saja. Orang yang punya harta tidak dia bunuh, sedang harta benda yang diambil sedikitnya senisab dicuri. Perampok yang seperti ini, hukumnya dipotong tangannya yang kanan dan kakinya yang kiri.
4. Perampok yang hanya buat mempertakut saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya hendaklah diberi hukuman penjara atau lainnya yang dapat menjadi menakuti kepadanya agar ia jangan mengulangi perbuatannya.

Firman Allah SWT:
"Sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dengan berusaha hendak memperbuat kerusakan di muka bumi, yaitu supaya mereka dibunuh atau disalib (dijemur) atau dipotong kaki tangannya timbal balik atau dibuang dari negeri. QS.Al Maidah:33".

Perampok apabila ia tobat dengan sebenarnya, sebelum ia tertangkap, gugurlah darinya hukum yang tertentu dengan sifat perampok. Berarti kalau ia membunuh orang dan mengambil harta, gugurlah darinya hukum jemur dan wajib dibunuh. Tinggal wali yang terbunuh boleh mengambil qisas atau memaafkan dan ia wajib mengembalikan harta yang diambilnya. Kalau ia hanya membunuh orang saja, gugurlah hukum wajib dibunuh, tinggal terserah kepada wali, akan diambil qisas atau dimaafkan. Kalau ia hanya mengambil harta benda saja, dia hanya dipotong tangannya, tidak dipotong kakinya. Jadi yang gugur dengan tobat sebelum tertangkap ialah hak Allah, adapun hak manusia terus dilakukan.

Firman Allah SWT:
"Dikecualikan dari hukum-hukum yang tersebut; orang-orang yang tobat sebelum kamu kuasai (mereka tidak dihukum dengan hukum perampok). QS.Al Maidah:34".

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya

Larangan IV Pasal Mencuri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 5)

Larangan IV Pasal Mencuri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 5)

Larangan IV Pasal Mencuri (Kitab Hudud / Hukuman Bagian 5)

Mencuri yaitu mengambil harta orang lain dengan jalan diam-diam, diambil dari taruhannya (tempat yang layak untuk menyimpan harta itu).

Mencuri adalah sebagian dari dosa besar, orang yang mencuri wajib dihukum yaitu dipotong tangannya. Mula-mula ia mencuri dipotong tangannya yang kanan (dari buku tapak tangannya). Pada kali kedua dipotong kakinya yang kiri (dari buku tumitnya). Pada kali yang ketiga, dipotong tangannya yang kiri. Pada kali keempat, dipotong kakinya yang kanan. Kalau dia masih juga mencuri, dipenjarakan sampai ia tobat.

Firman Allah SWT:
"Orang-orang pencuri laki-laki dan perempuan, hendaklah kamu potong tangannya sebagai balasan pekerjaannya, dari siksaan dari Allah, Allah Maha Perkasa lagi Bijaksana. QS.Al Maidah:38".

Adapun keterangan sifat-sifat (cara-cara) memotong yang tersebut, dari beberapa hadits (perbuatan, hukuman yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat beliau).

Syarat Hukum Potong Tangan:

1. Disyaratkan keadaan pencuri sudah baligh, berakal, melakukan pencurian itu dengan kehendaknya; anak-anak, orang gila dan orang yang dipaksa orang lain tidak dipotong tangannya.
2. Keadaan barang yang dicuri itu sedikitnya sampai senisab curi (kira-kira setimbang 9.36 gram emas, atau kira-kira seharga Rp.3,30 uang perak) dan barang itu diambil dari tempat taruhannya (simpanannya). Juga barang itu bukan kepunyaan si pencuri dan tidak ada jalan yang menyatakan bahwa ia berhak atas barang itu. Maka oleh karenanya orang yang mencuri harta bapaknya, tidak dipotong, begitu juga sebaliknya. Dan juga salah seorang suami istri mencuri harta yang lain. Orang miskin yang mencuri dari Baitulmal dan sebagainya, tidak dipotong.

Apabila telah nyata ia mencuri dengan ada saksi atau mengaku sendiri, selain tangannya wajib dipotong, ia wajib pula mengembalikan harta yang dicurinya itu atau gantinya kalau barang itu tidak ada lagi di tangannya.

Bantu Klik Iklan Dibawah Ya
Satu Klik-an Sangat Berarti Untuk Kepentingan Blog Ini
Terima Kasih Atas Bantuannya