• Wednesday, November 16, 2011

    Kisah Tangisan Bilal bin Rabah



    Kisah tangisan Bilal bin Rabah RA, Muadzin Rasulullah

    Ia adalah seorang Muadzin Rasulullah. Ia adalah hamba yang disiksa oleh tuannya dengan batu yang telah dipanaskan untuk memurtadkannya dari agamanya, tapi ia berkata:
    "Ahad, ahad (Allah Yang Esa)".

    Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini dan tidak punya harapan pada esok hari. Sering kali ia mendengar tuannya, Umayyah, berbicara bersama teman-temannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah SAW dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan kedengkian yang sangat.

    Pada suatu hari Bilal bin Rabah mengetahui cahaya Allah, lalu ia pergi menemui Rasulullah dan mengikrarkan keislamannya. Setelah itu ia menghadapi berbagai macam penyiksaan, tetapi ia tetap sabar dan tegar bagai gunung. Ia diletakkan dalam keadaan telanjang diatas bara api. Mereka membawanya keluar pada siang hari ke padang pasir dan mencampakkannya diatas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan yang diangkat dari tempatnya oleh sejumlah orang dan meletakkannya diatas tubuh dan dadanya. Siksa demi siksa, berulang-ulang dialaminya setiap hari, tetap ia sabar dan tegar. Hati sebagian penyiksanya menjadi lunak seraya berkata:
    "Sebutlah Lata dan Uzza dengan baik".
    Mereka menyuruhnya supaya memohon kepadanya tapi Bilal menolak untuk mengucapkannya dan sebagai penggantinya ia mengucapkan senandung abadinya,
    "Ahad, ahad".

    Abu Bakar Ash-Shidiq RA datang pada saat mereka menyiksanya dan meneriaki mereka dengan ucapan:
    "Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, 'Rabbku adalah Allah?",
    Abu Bakar meminta kepada mereka untuk menjualnya kepadanya. Umayyah memang berkeinginan untuk menjualnya. Akhirnya Abu Bakar RA membelinya dengan harga berlipat ganda dari Umayyah. Setelah itu ia membebaskannya dan Bilal mulai menjalani kehidupannya ditengah orang-orang merdeka, para sahabat yang taat lagi berbakti. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata kepadanya:
    "Ambillah! Demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan 1 uqiyah, niscaya aku menjualnya kepadamu dengan harga itu".
    Abu Bakar menjawab:
    "Demi Allah, seandainya kamu menolak kecuali seharga 100 uqiyah, niscaya aku membayarnya".

    Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Rasulullah mensyariatkan adzan untuk shalat dan pilihan jatuh pada Bilal sebagai Muadzin pertama untuk shalat, ini pilihan Rasulullah. Bilal pun melantunkan suaranya yang menyejukkan dan menggembirakan, yang memenuhi hati dengan iman dan pendengaran dengan keindahan. Ia menyeru:
    "Allahu, Allahu Akbar...." dan seterusnya.
    Ketika datang perang Badar dan Allah menyampaikan urusannya, Umayyah keluar untuk berperang dan ia jatuh tersungkur dalam keadaan mati di tangan Bilal.

    Pemimpin kekafiran mati tertusuk oleh pedang-pedang Islam sebagai balasan buat Bilal yang berteriak setelah terbunuhnya, "Ahad, ahad". Hari terus berlalu, Mekkah ditaklukkan dan Rasulullah masuk Mekkah dengan ditemani Bilal. Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna. Bilal mengikuti semua perperangan bersama Rasulullah dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Ia terus menjaga syiar agama yang agung ini. Sampai-sampai Rasul SAW menyifatinya sebagai "Seorang pria ahli surga" dan Rasulullah berpulang ke rahmat Allah dalam keadaan ridho lagi diridhoi. Sepeninggal beliau, sahabatnya dan khalifahnya, Abu Bakar RA bangkit memimpin urusan kaum muslimin. Bilal pergi menemui Abu Bakar RA seraya berkata kepadanya:
    Wahai khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
    'Amalan mukmin yang paling utama ialah berjihad di jalan Allah'.

    Abu Bakar bertanya kepadanya:
    "Apakah yang engkau kehendaki, wahai Bilal?"
    Ia menjawab:
    "Aku ingin murabathah (siap siaga berperang) di jalan Allah hingga aku mati".
    Abu Bakar bertanya:
    "Lantas siapa yang mengumandangkan adzan untuk kami?"
    Bilal berkata, sementara kedua matanya mengalirkan air mata:
    "Sesungguhnya aku tidak mengumandangkan adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah".
    Abu Bakar berkata:
    "Tetaplah mengumandangkan adzan untuk kami, wahai Bilal".
    Bilal berkata:
    "Jika engkau memerdekakan aku agar aku menjadi milikmu, lakukan apa yang engkau suka. Jika engkau memerdekakan aku karena Allah, biarkanlah aku berikut pembebasan yang kau berikan kepadaku".
    Abu Bakar berkata:
    "Aku memerdekakanmu karena Allah, ya Bilal".

    Bilal kemudian melakukan perjalanan ke Syam yang disana ia terus menjadi mujahid dan selalu siap sedia untuk berjihad. Konon, ia berkali-kali datang ke Madinah dari waktu ke waktu tetapi ia tidak mampu mengumandangkan adzan. Hal itu karena setiap kali hendak mengucapkan:
    Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)",
    kenangan-kenangan masa lalu menahan dirinya, lalu suaranya tersembunyi dikerongkongannya dan sebagai gantinya air matanyalah yang meneriakkan kata-katanya itu.

    Akhir adzan yang dikumandangkannya ialah pada saat khalifah Al-Faruq Umar bin Khattab RA mengunjungi Syam. Kaum muslimin meminta khalifah membawa Bilal agar mengumandangkan adzan untuk shalat mereka. Amirul Mukminin memanggil Bilal, sementara waktu shalat telah tiba. Umar berharap kepadanya agar mengumandangkan adzan untuk shalat. Bilal pun naik dan mengumandangkan adzan, maka menangislah para sahabat yang pernah bertemu Rasulullah ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk beliau. Mereka menangis seakan-akan mereka tidak pernah menangis sebelumnya, selamanya.

    Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhoinya dan menjadikan ridho kepadaNya.

    3 comments:

    1. Persaudaraan yg didasari karena keihlasan selalu membuat terharu dan indah untuk dikenang

      ReplyDelete

    Silahkan Beri Komentar Pada Setiap Postingan Disini Karena Komentar Anda Sangat Berarti Demi Kepentingan Bersama dan Blog ini Tapi Alangkah Baik dan Indahnya Jika Berkomentar Dengan Adab dan Sopan Santun

    "Please, Don't SPAM"

    script type="text/javascript"