• Friday, October 28, 2011

    Keutamaan Bulan Syaban



    Diantara peristiwa bulan Sya'ban yang punya nilai sangat penting adalah perubahan arah kiblat dari mengarah ke Ka'bah menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina. Pada saat beliau menginjakkan kakinya di Kota Madinah datanglah perintah ke Rasulullah untuk merubah arah kiblat yaitu dari Menghadap Ka'bah pindah menghadap ke baitul Maqdis. Yang mana pada prinsipnya Rasulullah mengarah kemana pun tidak ada masalah karena yang disembah hanya Allah.

    Didalam kota Madinah terdapat sekelompok penduduk Yahudi dan Nasrani yang mana mereka pada dasarnya benci dan memusuhi Islam (Rasulullah) seperti yang tertera dalam Al Quran tidak akan rela orang Yahudi dan Nasrani kepada orang Islam sampai orang Islam itu masuk pada agama mereka. Disaat pemindahan kiblat ini, mereka mulai menyebarkan fitnah yang menyebabkan sebagian para muallaf (orang yang baru masuk Islam) dan orang yang lemah keislaman dan keimanannya, dengan cara mereka mengatakan lihatlah Muhammad pemimpin kalian itu yang telah melaknat, menghina dan menggunjing kami tetapi ia menghadap ke kiblat kami

    Dan sejak kejadian itu Rasulullah sering menengadahkan wajahnya yang mulia ke langit, mengharap pada Allah untuk memindahkan kembali kiblat (menghadap Ka'bah), seperti yang tertera dalam Al Quran:
    "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkan mukamu kearah Masjidil Harom. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu kearahnya dan sesungguhnya orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram adalah dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan".

    Setelah turunnya ayat ini maka hati beliau sangat senang dan muka beliau berseri-seri karena pengharapannya dikabulkan oleh Allah. Dan dari ayat ini bisa kita simpulkan bahwa perhatian dan kecintaan Allah kepada Rasulullah amat besar sekali. Allah tidak mau beliau bersedih, tidak mau diri beliau terganggu, lebih-lebih gangguan dari orang musyrik (yahudi dan Nasrani) yang telah mendustakan beliau. Karena Nabi Muhammad adalah Habibullah (Kekasih Allah).

    Seperti yang telah diriwayatkan, ketika Nabi Muhammad bertanya kepada Allah:
    "Wahai Allah, Engkau telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Kholilullah dan Nabi Musa sebagai Kalimullah dan Nabi Isa sebagai Ruhullah, maka kamu jadikan aku sebagai siapa wahai Allah?"
    Maka Allah menjawab:
    "Engkau adalah Habibullah (kekasihku) wahai Muhammad".
    Jadi pastilah Allah tidak senang dan tidak rela melihat kekasihnya terganggu.

    No comments:

    Post a Comment

    Silahkan Beri Komentar Pada Setiap Postingan Disini Karena Komentar Anda Sangat Berarti Demi Kepentingan Bersama dan Blog ini Tapi Alangkah Baik dan Indahnya Jika Berkomentar Dengan Adab dan Sopan Santun

    "Please, Don't SPAM"

    script type="text/javascript"