• Monday, October 24, 2011

    Kehidupan Fatimah Az Zahra



    Hampir tidak mungkin kita bisa menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Fatimah Az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW ini. Setiap kita membayangkan suatu kemuliaan yang mungkin bisa kita ungkapkan untuk menggambarkan kemuliaan atau kebesarannya maka terbesit dalam hati kita keraguan bahwa apa yang kita bayangkan itu masih terlalu kecil untuk seorang Fatimah.

    Cara yang paling mungkin untuk menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Sayyidah Fatimah Az Zahra adalah sebagaimana cara yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, ayahanda beliau sendiri, yaitu membandingkan Fatimah dengan Maryam bunda Nabi Isa AS. Banyak kesamaan yang bisa kita lihat pada kedua pribadi besar ini. Sisi yang paling menonjol dari kedua tokoh yang sangat dicintai oleh banyak orang ini adalah ibadah yang kuat dan penderitaan yang dialami keduanya, Fatimah dan Maryam. Semoga salam dan sejahtera senantiasa dilimpahkan atas mereka berdua. Bayangkanlah jika saat itu Anda adalah bunda Maryam yang sedang melihat penyiksaan secara langsung atas "putra kandung"-nya yang shaleh dan taat, diseret, disayat-sayat dengan sadis, dipukuli, diludahi, ditendang dan dicaci maki.

    Itulah yang juga terjadi pada Fatimah, putri dan kecintaan Rasulullah SAW. Segera sepeninggal Rasulullah SAW, sang putri nan suci ini mengalami cobaan dan ujian yang datang secara beruntun tanpa henti. Segera tidak lama setelah tubuh Rasul yang mulia dikuburkan, Fatimah mengalami perlakuan-perlakuan yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Perampasan tanah Fadak, penghapusan hak khumus, pendobrakan pintu rumahnya dan usaha-usaha ingin membakar habis rumahnya terjadi pada masa jasad ayahnya yang sekaligus Rasul Allah masih "hangat" berada didalam kuburnya. Dan terlebih lagi, seperti Maryam, dia mulai merasakan masa-masa yang dekat yang mana putra-putrinya akan mengalami penderitaan yang lebih dahsyat lagi terutama apa yang bakal dialami oleh Husain putra yang sangat ia istimewakan ketimbang anak-anaknya yang lain. Sepeninggal ayahnya, Sayyidah Fatimah hidup selama 75 hari, masa-masa yang dilaluinya dengan berbagai kesedihan dan derita. Selama 75 hari itu, Jibril datang mengunjunginya, menyampaikan belasungkawa dan mengabarkan apa yang bakal menimpa dirinya dan keturunannya. Dari Jibril AS lah, Fatimah mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan Hasan Husein AS dan keturunannya yang lain.

    Berikut ini adalah detik-detik terakhir kehidupan putri tercinta Nabi, Fatimah dibawah ini:
    Tulang rusuk dan tangan Fatimah yang patah sangat membuat putri Nabi ini sangat menderita, bahkan cedera yang sedemikian serius itu juga mengakibatkan bayi dalam kandungannya meninggal. Cedera fisik serta benturan mental yang dialaminya memperparah sakitnya. Sebaris bait dalam bentuk puisi yang dinyatakannya sebelum ia meninggal cukup memberikan gambaran betapa berat beban derita yang dirasakan putri kesayangan Nabi ini. Sekian banyak derita yang menimpaku apabila semua derita ini ditimpakan kepada siang, niscaya siang segera kan berubah menjadi malam. Walaupun begitu, wanita mulia ini tetap mengatakan kepada seisi rumahnya bahwa ia merasa lebih baik, rasa sakit pada rusuk dan tangannya tidak lagi terlalu dirasakannya dan panas demamnya sudah mulai turun. Kemudian dia memandikan anak-anaknya yang segera dibantu Ali dan Fizzah.

    Ia memandikan anak-anaknya, mengganti pakaian mereka, kemudian mengantarkan mereka ke sepupunya. Lalu ia memanggil suami tercintanya, Ali ke sisinya seraya berkata dengan suara yang sangat lemah,
    "Ali, suamiku tercinta, engkau tahu mengapa kulakukan semua itu. Mohon engkau maafkan kesalahanku. Mereka, anak-anak kita, sudah demikian menderita bersamaku selama aku sakit, sehingga aku ingin hari ini mereka berbahagia di hari terakhir hidupku. Wahai Ali, engkau pun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku. Aku gembira tetapi sekaligus sedih. Aku gembira karena penderitaanku akan segera berakhir dan aku akan segera bertemu dengan ayah tercinta, namun aku juga sedih karena harus berpisah denganmu dan anak-anakku. Kumohon Ali, catatlah apa yang akan kukatakan kepadamu dan lakukanlah apa yang ingin engkau melakukannya. Sepeninggalku nanti, engkau boleh mengawini siapa saja yang engkau sukai, tetapi alangkah baiknya jika engkau mengawini sepupuku, Yamamah. Ia mencintai anak-anakku dan Husain sangat lengket dengannya. Biarlah Fizzah (pelayan Fatimah) tinggal bersama kalian, sekalipun ia sudah kawin, jika ia mau. Ia lebih dari sekedar pelayan bagiku. Aku mencintainya sebagai anak."

    "Wahai Ali, kuburkan jenazahku di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah berbuat sedemikian kejam kepadaku turut menyertai penguburan jenazahku. Dan jangan kematianku mengecilkan hatimu. Engkau mesti melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku membuat hidupmu kau rasakan pahit. Berjanjilah padaku, Ali.". "Ya Fatimah, aku berjanji." suara Ali bergetar. "Wahai Ali,,," Fatimah melanjutkan, "Aku tahu betapa engkau mencintai anak-anakku, tetapi khusus Husain, hati-hatilah kepadanya. Ia sangat mencintaiku dan ia akan sangat kehilanganku. Jadilah ibu baginya, hingga menjelang sakitku ini. Ia biasa tidur lelap diatas dadaku,  sebentar lagi ia akan kehilangan itu." Ali yang sedang mengelus-elus tangan Fatimah yang patah itu, tanpa disadarinya meneteskan air matanya dan jatuh diatas tangan Fatimah. Fatimah mengangkat wajahnya seraya berujar lembut, "jangan menangis suamiku, aku tahu dengan wajah lahirmu yang kasar, namun betapa lembut hatimu sesungguhnya. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan akan lebih banyak lagi derita yang akan engkau alami. Selamat tinggal tuanku, selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal suamiku tercinta. Selamat tinggal Ali,, Katakanlah selamat jalan untukku.

    Rasa sedih sudah sedemikian mencekik kerongkongannya, sehingga nyaris tidak sanggup lagi ia mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengatakan dengan ucapan yang bercampur dengan air mata, "Selamat tinggal Fatimah" Fatimah melanjutkan, "Semoga Allah Yang Maha Pengasih menolongmu dalam menanggung penderitaan dan kesedihan ini dengan kesabaran. Sekarang biarkanlah aku sendiri dengan Tuhanku". Ketika Fatimah mengakhiri kata-katanya ini, ia langsung berpaling kearah babut sajadah, lalu bersujud ke hadirat Allah.

    Beberapa kemudian Sayyidina Ali memasuki ruangan. Ia mendapatkan Fatimah masih dalam keadaan bersujud tetapi jiwanya telah berangkat dijemput ayahnya menuju rahmat Allah. Fatimah syahid dalam usia yang masih sangat muda, seperti yang dikatakan Sayyidina Ali:
    "Sekuntum bunga yang dipotong ketika sedang kuncup, dari Jannah kembali ke Jannah dan telah meninggalkan semerbak wewangian ke dalam jiwaku"
    Tak ada dan tak kan ada derita yang lebih hebat dari yang pernah dialami oleh mereka Ahlul Bait. Ketika mengingat Fatimah maka yang terbayang oleh kita hanya derita dan sengsara., seolah Fatimah adalah derita itu sendiri dan kesengsaraan adalah Ahlul Bait itu sendiri.

    Salamun 'Alaiki Ya Fatimah... Salamun 'Alaiki Ya Fatimah... Salamun 'Alaikum Ya Ahli Baitirasul... Allahumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad Wa 'Ala Ali Sayyidina Muhammad.

    1 comment:

    1. slm , sy sangat kagum dgn blog ini, kalau boleh saya usulkan agar mencantumkan sumber dari mana tulisan di ambil , walaupun pendek

      ReplyDelete

    Silahkan Beri Komentar Pada Setiap Postingan Disini Karena Komentar Anda Sangat Berarti Demi Kepentingan Bersama dan Blog ini Tapi Alangkah Baik dan Indahnya Jika Berkomentar Dengan Adab dan Sopan Santun

    "Please, Don't SPAM"

    script type="text/javascript"